Ojenews.com Pekanbaru Riau,- Kementerian Kehutanan RI menyelenggarakan Sosialisasi Pedoman Pemulihan Ekosistem Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 661 Tahun 2026 di Hotel Pangeran Pekanbaru, Selasa (4/11/2026).
Mengusung tema *”Pulihkan Hutan, Amankan Air, Sejahterakan Masyarakat: Semangat Baru Pemulihan Ekosistem TNTN untuk Riau yang Lebih Lestari”*, kegiatan ini dihadiri Plt. Gubernur Riau selaku Ketua Tim Percepatan Pemulihan TNTN (TP2TNTN), jajaran Forkopimda Riau, Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), Pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), dan perwakilan masyarakat desa penyangga.
Sosialisasi ini menjadi langkah strategis untuk memberikan pemahaman yang benar dalam pemulihan ekosistem TN Tesso Nilo pasca-penertiban kawasan hutan oleh Satgas PKH.
Pedoman ini memberikan standar operasional berbasis sains (science-based restoration) untuk memulihkan integritas ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah yang terdegradasi sebagai habitat Gajah Sumatera dan mengembalikan sistem hidrologi yang menjadi penyangga kehidupan masyarakat secara sistematis, terukur, adaptif dan melibatkan multi pihak.
*Tesso Nilo Tinggal 16,8% Hutan Alami*
TN Tesso Nilo dengan luas penetapan 81.793 hektare telah mengalami degradasi berat. Sekitar 83,2% atau seluas 68.043 hektare telah berubah menjadi kebun sawit. Kondisi ini menyisakan tutupan hutan alami sebesar 13.750 hektare atau sekitar 16,8% saja, sebagai sumber genetik (seed/seedling bank).
“Kerusakan ekosistem ini berdampak langsung pada kelestarian Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dan keseimbangan hidrologi kawasan. Perambahan yang marak telah memecah habitat gajah menjadi kantong-kantong kecil serta memutus koridor gajah Sumatera,” tulis siaran pers Kemenhut.
Pemulihan ekosistem TNTN dirancang untuk memulihkan habitat dan koridor Gajah Sumatera, serta memperkaya jenis pakan dan naungan. Untuk mengoptimalkan habitat, akan diterapkan rekayasa habitat terpadu seperti pembangunan _saltlick_ atau sumber mineral buatan di zona lembah yang berfungsi sebagai jangkar spasial guna menahan pergerakan gajah agar tetap di dalam kawasan, aman dan jauh dari permukiman warga.
*Pulihkan Fungsi Hidrologi 3 Sungai Utama*
Selain untuk perlindungan satwa, pemulihan ini sangat krusial bagi rehabilitasi sistem hidrologi Riau. Kawasan TN Tesso Nilo merupakan daerah tangkapan air (catchment area) bagi tiga sungai utama: Sungai Nilo, Sungai Air Sawan, dan Sungai Air Hitam.
Alih fungsi hutan menjadi sawit monokultur telah menghilangkan daya resap air dan memicu pemadatan tanah, sehingga wilayah sekitarnya rentan banjir saat musim hujan dan kekeringan ekstrem saat kemarau.
Melalui penanaman vegetasi riparian di sepanjang sempadan sungai dan penutupan kanopi hutan secara bertahap, fungsi retensi air tanah diharapkan pulih kembali untuk menstabilkan iklim mikro dan menjaga tata air regional.
Pelaksanaan pemulihan didukung strategi pembiayaan multi-sumber yang kolaboratif: APBN, program Rehabilitasi DAS, skema Result-Based Contribution (RBC) FOLU Net Sink 2030, dukungan swasta melalui Remedy Framework, kerjasama penguatan fungsi, serta filantropi nasional dan internasional. Seluruh proses mengedepankan pelibatan masyarakat desa penyangga.
Melalui sinergi lintas sektor, pemulihan TN Tesso Nilo diharapkan menghadirkan solusi jangka panjang untuk memulihkan jantung ekologi Riau. Hutan yang sehat bukan hanya rumah bagi Gajah Sumatera, tetapi juga spons raksasa pelindung desa-desa kita dari banjir bandang dan kekeringan ekstrem.





