Mitos Supermom dan Rapuhnya Kesehatan Mental: Saatnya Ibu Berhenti Makan ‘Sisa’ Kebahagiaan

Oje,-Tanggal 22 Desember kembali tiba. Beranda media sosial kita hari ini mungkin penuh dengan foto-foto manis, bunga, dan ucapan terima kasih untuk para ibu. Kita melabeli mereka dengan sebutan-sebutan heroik: “Malaikat Tanpa Sayap”, “Wonder Woman”, atau yang paling populer belakangan ini, “Supermom”. Namun, di balik riuh rendah perayaan dan glorifikasi gelar-gelar perkasa tersebut, pernahkah kita berhenti sejenak untuk menanyakan satu hal sederhana: “Apakah ibu benar-benar bahagia?”

Di balik jubah Supermom yang kita sematkan, tersimpan realitas yang seringkali luput dari pandangan, atau mungkin sengaja kita abaikan. Realitas tentang kerapuhan kesehatan mental para ibu yang tergerus oleh budaya pengorbanan tanpa batas.
Sejak kecil, banyak dari kita dibesarkan dengan narasi bahwa ibu yang baik adalah ibu yang mendahulukan kepentingan keluarga di atas segalanya, bahkan di atas nyawanya sendiri. Kita sering mendengar kisah-kisah “mulia” tentang seorang ibu yang hanya makan nasi dingin sisa anak-anaknya agar tidak mubazir, atau ibu yang selalu memilih memakan bagian kepala ikan dan tulang-belulang, semata-mata agar daging terbaiknya bisa dinikmati oleh suami dan anak-anak.

Selama bertahun-tahun, tindakan ini dipuji sebagai bentuk cinta kasih tertinggi. Padahal, tanpa sadar kita sedang melakukan romantisasi terhadap penderitaan. Kita menormalisasi budaya di mana ibu tidak boleh menikmati “daging” kehidupan. Kita membentuk pola pikir bawah sadar bahwa kebutuhan ibu adalah prioritas nomor sekian; bahwa ibu baru boleh kenyang setelah semua orang kenyang; bahwa ibu baru boleh tidur setelah semua orang terlelap; dan ibu baru boleh bahagia jika ada sisa kebahagiaan dari keluarganya.

Filosofi “makan kepala ikan” ini harus kita tinggalkan. Ini bukan tentang makanan, ini tentang nilai diri (self-worth). Ketika seorang ibu terus-menerus menempatkan dirinya di urutan terakhir, ia sedang mengikis harga dirinya sendiri. Ia mengirimkan pesan kepada dirinya sendiri bahwa kesejahteraannya tidak penting. Lama-kelamaan, pengabaian diri (self-neglect) ini menumpuk menjadi kelelahan emosional yang kronis, burnout, hingga depresi yang sunyi.

Label Supermom sesungguhnya adalah perangkap yang berbahaya. Gelar ini menuntut kesempurnaan: karir yang cemerlang, rumah yang bersih berkilau, anak yang berprestasi, dan suami yang terurus rapi—semuanya dikerjakan dengan senyuman tanpa keluhan. Masyarakat, dan kadang sesama ibu, menjadi hakim yang kejam. Ibu yang lelah dianggap lemah. Ibu yang butuh istirahat dianggap egois.

Padahal, ibu juga manusia biasa yang memiliki batas fisik dan psikis. Ibu punya rasa lapar, punya rasa lelah, dan punya mimpi-mimpi pribadi yang mungkin tertunda. Memaksa ibu menjadi pahlawan super yang tak boleh retak hanya akan melahirkan jiwa-jiwa yang rapuh. Kita melihat banyak ibu muda hari ini yang mengalami gangguan kecemasan (anxiety) tinggi karena berusaha mengejar standar ideal yang diciptakan oleh media sosial dan ekspektasi sosial yang tidak realistis.
Ibu yang Bahagia, Kunci Keluarga Sejahtera.

Di momen Hari Ibu ini, saya ingin menyerukan sebuah paradigma baru: Ibu Berhak Bahagia. Kebahagiaan ibu bukanlah sebuah kemewahan atau tindakan egois, melainkan sebuah kebutuhan fundamental bagi ketahanan keluarga.
Ada pepatah bijak mengatakan, “You cannot pour from an empty cup.” Anda tidak bisa menuangkan air dari cangkir yang kosong. Seorang ibu tidak bisa memberikan kasih sayang yang berkualitas jika batinnya sendiri kering kerontang. Ibu yang stres, tertekan, dan merasa tidak dihargai akan sulit mendidik anak dengan sabar dan penuh cinta. Sebaliknya, ibu yang sehat mentalnya, yang merasa dicintai dan dihargai, akan memancarkan energi positif ke seluruh isi rumah.

Maka, untuk para ibu di luar sana: Mulailah bersikap adil pada diri sendiri. Makanlah potongan daging ikan yang paling lezat itu sesekali, Anda berhak menikmatinya sama seperti anggota keluarga lainnya. Belilah baju bagus untuk diri sendiri, bukan hanya untuk anak. Luangkan waktu untuk hobi, untuk istirahat, atau sekadar minum kopi di café dengan tenang tanpa gangguan (“Me Time”).

Dan bagi para suami serta anak-anak, hadiah terbaik untuk Hari Ibu bukanlah sekadar buket bunga atau status WhatsApp. Hadiah terbaik adalah memberikan ruang bagi ibu untuk menjadi dirinya sendiri. Ambil alih beban domestiknya, biarkan ia beristirahat, dan validasi perasaannya. Berhenti menuntut ibu menjadi sempurna. Biarkan ibu menjadi manusia. Karena hanya dengan menjadi manusia yang utuh dan bahagia, ia bisa benar-benar menjadi “ibu” dalam arti yang sesungguhnya. Selamat Hari Ibu, untuk kalian yang berhak bahagia hari ini dan seterusnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *