Ojenews.com Pekanbaru Riau,– Kesadaran warga terhadap pengelolaan sampah rumah tangga terus didorong. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata FISIP Universitas Riau melalui program “Berdampak untuk Negeri” menggelar sosialisasi dan praktik pengelolaan minyak jelantah, sampah, hingga pembuatan kompos dari kulit pisang di Kelurahan Tangkerang Labuai, Kecamatan Bukit Raya, Sabtu 12 Juli 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Balai Penyuluhan Sakinah, Jalan Embun Pagi ini diawali senam bersama warga pukul 08.00 WIB. Sosialisasi dimulai pukul 09.00 WIB dan dibuka oleh moderator dari tim mahasiswa, dilanjutkan sambutan ketua kelompok, Febri.
Turut hadir Pencetus Senam Labuai Mandiri Eska Maulana dan Indri Setyani, Ketua LPM Muhammad Aminullah, serta pembimbing lapangan Achenk yang juga LC Kampung Berseri Astra Indah Madani.
Edukasi Dampak dan Nilai Ekonomi LimbahPada sesi pertama, mahasiswa memaparkan bahaya pembuangan minyak jelantah secara sembarangan terhadap kesehatan dan pencemaran lingkungan. Warga juga diberi dua opsi pengepul minyak jelantah beserta kisaran harga jual per liter, agar limbah dapur bisa memiliki nilai ekonomis sekaligus ramah lingkungan.
Sesi dilanjutkan dengan kuis interaktif untuk menjaga antusiasme peserta.
Materi kedua membahas pemilahan sampah organik dan anorganik. Fokus diarahkan pada pemanfaatan sampah organik, khususnya kulit pisang yang dapat diolah menjadi kompos cair.
Puncak kegiatan adalah praktik pembuatan kompos cair dari limbah kulit pisang. Bahan yang digunakan sangat sederhana: kulit pisang yang dicacah, 1,5 liter air, satu sendok makan gula atau kopi, dan satu tutup botol EM4.
Campuran dimasukkan ke botol bekas air mineral ukuran besar, diaduk rata, lalu difermentasi selama satu minggu. Setiap hari tutup botol dibuka sebentar untuk membuang gas hasil fermentasi. Setelah seminggu, air kompos disaring dan siap digunakan sebagai pupuk cair.
Untuk memberi gambaran, mahasiswa juga menunjukkan hasil kompos yang sudah mereka buat sebelumnya. Kegiatan ditutup dengan pembagian hadiah bagi warga yang aktif menjawab kuis, termasuk botol kompos kulit pisang hasil karya mahasiswa.
Ketua kelompok KKN, Febri, menyebut kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam mendorong kemandirian dan kepedulian lingkungan warga.
“Harapannya warga Tangkerang Labuai bisa mulai dari rumah. Limbah yang biasanya dibuang, bisa diolah jadi sesuatu yang bermanfaat dan punya nilai,” ujarnya.
Program ini diharapkan menjadi langkah awal terciptanya pola hidup bersih dan pemanfaatan limbah rumah tangga secara berkelanjutan di Kelurahan Tangkerang Labuai.




