Tanggapi Kritik Aktifis dan Media, BPDASHL Indragiri Rokan: Rehabilitasi Hutan dan Lahan Perlu Kolaborasi dan Sinergitas Para Pihak

Ojenew.com Kuantan Riau,- Kegiatan Reboisasi untuk Pengkayaan Tanaman/ Peremajaan di Hutan Lindung Bukit Betabuh Kecamatan Kuantan Mudik dan Hutan Lindung Sentajo Kecamatan Sentajo Raya, Kabupaten Kuantan Singingi Riau. Telah dimulai sejak tahun 2019 lalu melalui APBN (Pemerintah Pusat) seluas 5.000 hektar.

Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) ini dilaksanakan secara swakelola dan melibatkan sebanyak 29 Kelompok Tani sebagai Kelompok Kerja atau pelaksana RHL. Program Reboisasi Pola Agroforestry di Hutlin Bukit Betabuh dan Hutlin Sentajo dilaksanakan selama kurun waktu tiga tahun anggaran meliputi:
1. Penanaman & Pemeliharaan tahun berjalan(P0) Tahun 2019 dg anggaran Rp. 5,1jt/hektar.
2. Pemeliharaan tahun ke-1 (P1) Tahun 2021 dg anggaran Rp. 1.5jt/hektar.
3. Pemeliharaan tahun ke-2 (P3) Tahun 2021 dg anggaran Rp. 1.5jt/hektar.

“Tidak hanya secara swakelola, kegiatan RHL juga ada yang dilakukan secara kontraktual, dengan pola Reboisasi Intensif seluas 3.750 Hektare. Dimana untuk penanaman pengkayaan berkisar 625 batang per Hektare sampai 1.100 batang per Hektare (lebih banyak dari reboisasi pola agroforestry yang tanaman pokoknya hanya 400 btg/ha),” ungkap Kepala Seksi Rehabilitasi Hutan dan Lahan, Desmantoro.

Kegiatan ini melalui APBN dengan kontrak selama 3 tahun anggaran, meliputi:
1. Penanaman dan pemeliharaan tahun berjalan (P0) berkisar Rp 6,9 – 11,2 juta/ha,
2. Pemeliharaan tahun ke-1 (P1) berkisar Rp 2,2 – 3,2 juta/ha,
3. Pemeliharaan tahun ke-2 (P2) berkisar Rp 2,2 – 2,9 juta/hektar

Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Seksi Evaluasi, Sigit Budi Nugroho, untuk Pengawasan dan Penilaian dilakukan oleh PT Akurat Supramindo Konsultan dengan perwakilan tiap pokja atau kontraktual masing-masing 1 orang tenaga pengawas dan penilai. Peran Pengawasan dan Penilaian yang dilakukan oleh konsultan berfokus pada pengawasan proses untuk setiap tahap kegiatan RHL dan penilaian tanaman yang dilakukan pada akhir fase kegiatan pemeliharaan.

“Dinamika yang terjadi di lapangan cukup tinggi, sehingga beberapa faktor penghambat agar segera diatasi oleh para pihak. Kegiatan ilegal logging dan pemanfaatan lahan RHL untuk kegiatan perkebunan contohnya. Perlu perhatian pihak pengamanan seperti Polhut dan TNI serta tim pengendali (KPH) untuk bisa mengatasi kedua hal tersebut, sebab kegiatan tersebut secara masif menjadi faktor penghambat kegiatan RHL di luar wewenang Waslai,” papar Sigit.

“3Terdapat serangan hama seperti babi dan tikus pengerat yang menyebabkan kematian tanaman contoh berikutnya. Terhadap faktor penghambat ini, waslai hanya bisa merekomendasikan untuk dilakukan penyulaman kembali. Masukan dari pelaksana dan pendamping RHL diperlukan sebagai bahan rekomendasi untuk menentukan jenis tanam yang lebih tahan terhadap gangguan,” lanjut Sigit.

BPDASHL Indragiri Rokan selaku pelaksana kegiatan RHL tetap berkomitmen untuk menyelesaikan kegiatan ini dengan baik secara tuntas. Di akhir kegiatan ini BPDAS akan melaksanakan serah terima Kegiatan RHL ini guna selanjutnya untuk diserahkan kepada masyarakat lagi. Masyarakat berhak menerima manfaat dari kegiatan yang sudah mereka laksanakan selama tiga tahun ini.

“Dalam pelaksanaan RHL diperlukan dukungan dan kolaborasi multi pihak, termasuk dukungan dari para aktifis dan pegiat lingkungan, serta pihak media, termasuk dalam hal pengawasan selain yang dilakukan oleh Konsultan Pengawas dan Penilai. Kritik dan masukan yang disampaikan oleh Aktifis serta Pihak Media belum lama ini terhadap pengawasan dan penilaian kegiatan RHL menjadi bahan koreksi bagi Pihak BPDASHL selaku fasilitator kegiatan dalam meningkatkan pengawasan dan penilaian,” pungkas Sigit.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *