JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN PANCASILA

Tidak ada komentar 81 views

JUDUL :

PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT

DISUSUN OLEH:
ADE ZAHARIL AN HASANI NPM : (21901091036

ELLY IRA RAYANI NPM : (21901091018)

UNIVERSITAS ISLAM MALANG
FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI
PRODI ADMINISTRASI NEGARA
MALANG 2019

ABSTRAK
In this journal, we discuss Pancasila as the philosophical system of a country, namely the State of Indonesia. We also briefly explain how Pancasila was formed, and how Pancasila became the basis of a philosophical state. In this journal explaining etymology or language understanding of philosophy and understanding of philosophy historically or based on its history and understanding of philosophy in terminology. Next explain

how the relationship between Philosophy and Pancasila. Then explain about the values contained in Pancasila as a Philosophy System. In the end, this journal discusses the various philosophical systems adopted by several countries in the world, especially Indonesia.
Keywords: Philosophy System, Pancasila

ABSTRAK
Dalam jurnal ini, kita membahas Pancasila sebagai sistem filosofis suatu negara, yaitu Negara Indonesia. Kami juga menjelaskan secara singkat bagaimana Pancasila dibentuk, dan bagaimana Pancasila menjadi dasar dari negara filosofis. Dalam jurnal ini menjelaskan etimologi atau pemahaman bahasa filsafat dan pemahaman filsafat secara historis atau berdasarkan sejarahnya dan pemahaman filsafat dalam terminologi. Selanjutnya menjelaskan bagaimana hubungan antara Filsafat dan Pancasila. Kemudian jelaskan tentang nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai Sistem Filsafat. Pada akhirnya, jurnal ini membahas berbagai sistem filosofis yang diadopsi oleh beberapa negara di dunia, khususnya Indonesia.Kata kunci: Sistem Filsafat, Pancasila

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Penulisan jurnal ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pancasila bagi mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara 2019 Universitas Islam Malang. Untuk memenuhi tugas tersebut, pembuatan jurnal ini harus sesuai dengan kaidah penulisan jurnal buku. Tiap penulisan pada jurnal ini juga harus didasarkan pada acuan yang relevan dan mendukung.
Jurnal ini membahas tentang Pancasila sebagai Sistem Filsafat. Dimana Sistem Filsafat merupakan kumpulan ajaran yang terkoordinasi, dengan ciri-ciri tertentu yang berbeda dengan sistem lain, misalnya sistem ilmiah. Suatu sistem fiIsafat harus komprehensif, dalam arti tidak ada sesuatu hal yang di luar jangkauannya. Kalau tidak demikian maka hanya memandang realitas dari satu samping atau tidak memadai. Suatu sistem filsafat dikatakan memadai kalau mencakup suatu penjelasan terhadap semua gejala, sedangkan Pancasila sendiri merupakan lima dasar yang dijadikan sebagai panutan masyarakat Indonesia dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Disisi lain pembuatan jurnal ini juga menjadi latihan bagi kami agar lebih memahami tentang pembuatan dan dapat

membedakan karya-karya tulis satu dengan yang lainya. Sumber data yang digunakan kami lebih mengacu pada beberapa sumber yang ada pada buku Pendidikan Pancasila untuk perguruan tinggi, namun dengan banyak pertimbangan dan penalaran untuk menyesuaikan dengan fakta yang ada yang sesuai pengetahuan yang kami miliki sehingga data yang digunakan pada jurnal ini sedikit banyak dipercaya dan dapat dipertanggung jawabkan serta dapat menambah pengetahuan. Pembaca jurnal ini tentang Pancasila dan ideologi serta Pancasila sebagai ideologi suatu negara. Pembaca juga mengharapkan adanya kritik dan saran agar dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan yang masih terdapat pada jurnal ini.
Nilai-nilai pancasila yang perlu diestafetkan dari generasi ke generasi tersebut dapat melalui pendidikan tentang pancasila di perguruan tinggi. Pendidikan tentang pancasila dalam kurikulum sekarang merupakan mata kuliah Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi. Pendidikan pancasila merupakan salah satu cara untuk menanamkan pribadi yang bermoral dan berwawasan luas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, pendidikan pancasila perlu diberikan disetiap jenjang pendidikan mulai dari tingkat dasar, menengah hingga perguruan tinggi.

PEMBAHASAN
a. Pengertian Sistem
Sistem berasal dari bahasa Latin (systēma) dan bahasa Yunani (sustēma) adalah suatu kesatuan yang terdiri atas komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi, atau energi untuk mencapai suatu tujuan. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan suatu set entitas yang berinteraksi, di mana suatu model matematika seringkali bisa dibuat.
Sistem juga merupakan kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan yang berada dalam suatu wilayah serta memiliki item-item penggerak, contoh umum misalnya seperti negara. Negara merupakan suatu kumpulan dari beberapa elemen kesatuan lain seperti provinsi yang saling berhubungan sehingga membentuk suatu negara di mana yang berperan sebagai

penggeraknya yaitu rakyat yang berada dinegara tersebut.
Kata “sistem” banyak sekali digunakan dalam percakapan sehari-hari, dalam forum diskusi maupun dokumen ilmiah. Kata ini digunakan untuk banyak hal, dan pada banyak bidang pula, sehingga maknanya menjadi beragam. Dalam pengertian yang paling umum, sebuah sistem adalah sekumpulan benda yang memiliki hubungan di antara mereka.
b. Sistem Filsafat
Pada uraian di atas dikatakan bahwa yang dimaksud dengan sistem filsafat adalah kumpulan ajaran yang terkordinasikan. Suatu sistem filsafat haruslah memiliki ciri-ciri tertentu yang berbeda dengan sistem lain misalnya sistem ilmiah.

Suatu sistem filsafat harus komprehensif, dalam arti tidak ada sesuatu hal yang di luar jangkauannya. Kalau tidak demikian maka hanya memandang realitas dari satu samping atau tidak memadai. Suatu sistem filsafat dikatakan memadai kalau mencakup suatu penjelasan terhadap semua gejala (Kattsoff. 1964).
Realitas yang dihadapi manusia sangat luas, mencakup segala sesuatu baik hal-hal yang dapat ditangkap dengan indera maupun yang dapat ditangkap dengan akal. Sebagai mahluk yang berakal, manusia dapat melampaui pengalamannya sehingga dapat menangkap kenyataan yang di luar pengalaman. Realitas yang bersifat spiritual (kerokhanian), misalnya hakikat atau essensi sesuatu hal tidak dapat ditangkap dengan indera akan tetapi hanya dapat dimengerti atau difahami dengan perantaraan akal. Karena sedemikian luas jangkauan filsafat, maka sesuatu sistem filsafat dengan sendirinya mencakup pemikiran teoritis tentang realitas baik itu tentang Tuhan, alam, maupun manusia itu sendiri.

Sejalan dengan pengertian sistem sebagaimana dikemukakan di depan, maka unsur-unsur atau ajaran tentang- realitas tersebut, haruslah saling-berhubungan satu dengan yang lain dalam hubungan yang menyeluruh (komprehensif). Dalam suatu sistem filsafat ada hubungan antara pemikiran teoritis tentang Tuhan, alam dan manusia. Yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa

suatu sistem filsafat mengandung maksud atau tujuan tertentu sebagaimana yang diharapkan oleh mereka yang mempercayainya bahwa sistem filsafat yang dianutnya itu sudah merupakan kebenaran yang mutlak.

c. Pancasila Sebagai Sistem Filsafat
Manusia merupakan mahluk yang selalu bertanya la menanyakan segala sesuatu yang dijumpainya, yang belum dimengerti. Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat diperoleh dengan berfikir sendiri (refleksi) atau ditanyakan kepada orang lain. Pertanyaan kefilsafatan bertalian dengan pertanyaan yang mendalam yang mengacu pada hakikat sesuatu yang dipertanyakan baik tentang Tuhan, alam, manpun diri manusia sendiri.
Jawaban atas pertanyaan kefilsafatan menghasilkan suatu sistem pemikiran kefilsafatan. Pemikiran kefilsafatan kemudian dijelmakan menjadi pandangan kefilsafatan. Dengan demikian pandangan kefilsafatan seseorang, berarti juga merupakan pandangan seseorang terhadap Tuhan, alam, dan manusia. Dari pandangan kefilsafatan seseorang dapat diketahui bagaimana ia berfikir, bersikap, dan berbuat.
Dalam uraian terdahulu dikatakan bahwa sistem kefilsafatan adalah kumpulan dari ajaran-ajaran tentang kenyataan, yang saling berhubungan. Sehingga merupakan kesatuan komprehensif yang kesemuanya itu dimaksudkan untuk mencapai tujuan tertentu. Dimensi subjektif dibentuknya sistem filsafat adalah kesadaran dari pelaku atau pembentuk sistem tersebut untuk menerapkan sistem itu bagi tujuan tertentu atau ideal yang diharapkan.
Pancasila terdiri dari lima sila, yang masing-masing sila merupakan ajaran yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemausiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Setiap sila dari Pancasila tidak dapat dipisahkan dari kesatuan keseluruhannya. Pada dasarnya yang menjadi subjek atau pendukung dari ini isi sila-sila Pancasila adalah manusia Indonesia sebagai manusia. Manusia yang terdiri dari sejumlah unsur mutlak yang semua unsur tersebut menduduki dan menjalankan

fungsinya secara mutlak, artinya tidak dapat digantikan fungsinya oleh unsur yang lain. Adapun inti isi masing-masing sila Pancasila adalah penjelmaan atau realisasi yang sesuai dengan unsur-unsur hakikat manusia sehingga setiap sila harus menempati kedudukan dan menjalankan fungsinya secara mutlak dalam susunan kesatuan Pancasila.

Jadi, tidaklah benar bahwa ajaran lima sila itu hanya satu kumpulan barang yang baik-baik belaka, dan bercerai berai seperti pasir ditepi pantai. Tidaklah begitu saudara-saudara., semuanya kelima sila itu adalah tersusun dalam suatu perumusan pikiran filosofi yang harmonis (Yamin,1958).
Sejalan dengan itu Prof. Notonagoro menyatakan:
“Sedangkan sebenarnya sila-sila itu bersama-sama merupakan bagian-bagian dari suatu keutuhan, merupakan bagian-bagian dalam hubungan kesatuan”.

Berdasar pada uraian tersebut di atas, Pancasila sudah memenuhi syarat untuk dapat disebut sebagai sistem kefilsafatan. Sebagai suatu sistem kefilsafatan, Pancasila merupakan hasil pemikiran manuaia Indonesia secara mendalam., sistematik dan menyeluruh tentang kenyataan. Setiap sistem kefilsafatan pada hakikatnya mencerminkan pandangan sesuatu kelompok atau sesuatu bangsa. Terbentuknya sistem kefilsafatan ini juga dipengaruhi oleh lingkungan fisik, sosial dan spiritual tempat bangsa ini hidup. Pancasila merupakan pencerminan pandangan Bangsa Indonesia dalam menghadapi realitas. Secara tegas dalamPancasila tercermin pandangan Bangsa Indonesia mengenai “Tuhan”, “manusia”, “satu”, “rakyat” dan “adil”.

KESIMPULAN
Pancasila merupakan Suatu dasar nilai serta norma untuk mengatur pemerintah negara atau dengan kata lain Pancasila merupakan Suatu dasar untuk untuk mengatur penyelenggaraan Negara. Pancasila merupakan Sumber dari segala sumber hukum, Pancasila merupakan kaidah hukum Negara yang secara konstitusional mengatur Negara Republik Indonesia beserta seluruh unsur-unsurnya yaitu rakyat, wilayah serta pemerintah Negara.

Oleh karena itu Pancasila ditetapkan sebagai dasar filsafat Negara Indonesia sebagai landasan. Pancasila sebagai filsafat Negara Indonesia yaitu hasil pemikiran mendalam dari bangsa Indonesia, yang dianggap, diyakini sebagai kenyataan nilai dan norma yang paling besar, dan adil untuk melakukan kegiatan hidup berbangsa dan bernegara di manapun mereka berada. Keseluruhan ciri-ciri khas bangsa Indonesia adalah Pencerminan dari garis pertumbuhan dan perkembangan bangsa Indonesia sepanjang masa.

DAFTAR PUSTAKA

1. https://id.wikipedia.org/wiki/Sistem
2. Notonagoro, 1971, Pancasila secara Rmiah Populer, Pancuran Tujuh, Jakarta.
3. Yamin, Muhammad, 1958, Sistema Filsafat Pantjasila, Kementerian Penerangan R.I., Jakarta.
4.Hayat,H.Suratman/2018. Pendidikan Pancasila Untuk Perguruan Tinggi.Malang.Baskara Media

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN PANCASILA"